Halaman

Minggu, 14 Oktober 2012

Ruh dan Jiwa




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Rahasia terbesar dalam kehidupan manusia adalah: asal muasal munculnya kehidupan!, selain sumber kehidupan, yang menjadi misteri dalam kehidupan manusia adala keidupan itu sendiri. Kenapa dan bagaimana sosok makhluk yang tadinya mati bias mendapatkan kehidupannya. Tiba-tiba bias bergerak dan berkembang biak.
Sebenarnya Ruh telah menebarkan misteri yang tiada habisnya bagi si makhluk hidup sendiri manusia bias merasakan merasakan hadirnya energy kehidupan di dalam dirinya, tapi tidak pernah bisa memahami tentang hakikat “Energi kehidupan” itu.
Selain asal muasal kehidupan dan ruh adalah tentang jiwa. Manusia menyebut Jiwa sebagai salah satu komponen penyusun makhluk hidup.
Bismillahirrahmanirrahiim
“ Hai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan Hati yang puas lagi di ridhoi_Nya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hambaKu,  dan masuklah ke dalam syurgaKu “
( QS Fajr : 27 – 30 )


BAB II
PEMBAHASAN

ü  Pengertian Jiwa dan Ruh
Jiwa di dalam Al-Qur’an diwakili dengan kata ‘Nafs’, secara umum bisa diartikan sebagai ‘diri’. Penggunaan kata Nafs yang mengambarkan Jiwa difirmankan Allah dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 31 kali. Sedangkan kata ‘Nafs’ (Anfus) yang bermakna ‘diri’ difirman kan tidak kurang dari 275 kali.
Sedangkan ‘Ruh’ atau Roh di dalam Al-Qur’an diulang-ulang oleh Allah sebanyak 10 kali. Jadi Ruh lebih sedikit di bandingkan dengan penggunaan kata ‘Jiwa dan Diri’
QS. Az Zumar (39) : 42




Artinya : Allah memegang Jiwa ( orang ) ketika matinya dan ( memegang ) Jiwa ( orang ) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa ( orang ) yang telah dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang di tentukan. Sesunggunya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.
            Ayat diatas memberikan pemahaman kepada manusia tentang makna Jiwa. Bahkan Jiwa adalah sesuatu yang bisa ada dan tidak ada, atau bisa keluar dan masuk pada seorang manusia ketika dia masih hidup.
            Di jelaskan oleh Allah bahwa seseorang yang sedang terjaga -tidak jujur dan tidak mati- ia memiliki jiwa di dalam dirinya. Pada saat seseorang itu tertidur atau mati, Allah memegang jiwa manusia tersebut. Dan kemudian Dia menahan jiwa ketika orang itu mati alias tidak dikembalikan. Sedangkan pada orang yang tertidur, Allah melepaskan Jiwa itu, sehingga orang yang tidur itu terbangun atau tersadar kembali.


            QS. Al A’raaf (7) : 172





            Artinya : Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap Jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukanlah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami “bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.
            Ayat di atas memberikan informasi, bahwa sejak pertama kali manusia di lahirkan oleh ibunya, Allah sudah mengaktifkan Jiwanya. Di gambarkan ia telah memiliki ‘naluri’ ketuhanan. Sehingga, pada dasarnya dia telah memberi kesaksian awal bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakannya.
            Ketika sel telur dan sperma di lepaskan dari sumbernya dari indung telus dan testisnya, dan kemudian di pertemukan dan di tempatkan di dalam rahim. Saat itulah jiwa manusia sudah mulai terbentuk. Dengan kualitas yang paling rendah. Sangat dasar. Tapi fitrahnya telah bertauhid kepada Allah sang pencipta. Dengan kata lain manusia yang menyebut dirinya atheis (tidak bertuhan), sebenarnya telah mengingkari fitrah jiwanya dan melawan kata hatinya sendiri. Setiap orang , pada dasarnya, mengakui adanya suatu kekuatan yang maha dahsyat di luar kemampuan dari diri manusia. Diala Allah ‘Azza wajalla.
            Di dalam ayat lain Allah memberikan gambaran bahwa ketika masih bayi Jiwa kita sangatlah lemah, dan tidak tau apa-apa. Jiwa yang lemah itu akan terus menerus mengalami penyempurnaan sampai dewasa kelak, lewat berbagi pengalaman hidupnya. Lewat interaksi panca indra dan hatinya.




            QS. A Nahl (16) : 78




            Artinya : Dan Alla mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia beri kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”
            Jadi, Jiwa adalah ‘sesuatu’ di dalam diri kita yang mengalami ‘pertumbuhan’ dan ‘perkembangan kualitas’ seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kedewasaan seorang manusia. Semakin dewasa jiwa seseorang maka semakin tinggi juga kualitas jiwanya.
            QS. Yusuf : 22


            Artinya : Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikian lah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
            Jadi Jiwa juga adalah ‘sesuatu’ di dalam diri manusia yang memiliki kemampuan untuk menangkap ilmu dan hikmah. Dia bisa memahami makna yang tersimpan di dalam suatu informasi. Bahkan dia juga bisa melakukan analisa dan mengambil keputusan dalam menyerap ilmu dan hikmah tersebut.
            Tentang proses penyempurnaan Jiwa itu, Allah menjelaskan dalam firmanNya. Bahwa manusia, pada mulanya berasal dari sesuatu yang tidak bisa di sebut itu proses secara bertingkat-tingkat di dalam diri manusia, Bapak dan Ibunya, seingga menjadi manusia. Dan kemudia di luar rahim sampai menjadi dewasa.
            QS. Al Insaan (76) : 1


            Artinya : bukanlah telah dating atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat di sebut ?

Dengan tegas Allah menjelaskan bahwa jiwa mengalami penyempurnaan. Ia di hadirkan pertama kalinya dalam kondisi yang lemah, jauh dari sempurna. Setela melalui proses kehidupan, pengalaman, pembelajaran, maka jiwa akan menjadi sempurna pada usia dewasanya.
Dalam proses penyempurnaan itu Jiwa bisa mengarah kepada kebaikan, atau sebaliknya pada keburukan. Sesungguhnya manusia bisa membersihkan Jiwanya, atau mengotorinya. Jika Jiwa bersih maka beruntunglah seorang tersebut karena jiwanya yang bersih akan memberikan manfaat kepada manusia saat idup di dunia maupun diakhirat nanti, sedangkan orang yang mengotorinya bakal merugi, karena jiwa yang kotor itu akan memunculkan masalah dan penderitaan sepanjang keidupannya di dunia sampai di akhirat.

ü  Perbedaan Jiwa dan Ruh
Perbedaan antara Jiwa dan Ruh adalah pada “fungsinya”. Jiwa digambarkan sebagai sosok yang bertanggung jawab atas segala perbuatan kemanusiaannya. Bukan Ruh yang bertanggung jawab atas segala perbuatan manusia, melainkan Jiwa.
Adapun beberapa perbedaan antara Jiwa dan Ruh :
1)      Pada subtansinya. Jiwa dan Ruh berbeda dari segi kualitasnya ‘dzatnya’. “Jiwa” di gambarkan sebagai dzat yang bisa berubah-ubah kualitas: naik dan turun, jelek dan baik, kotor dan bersih, dan seterusnya. Sedangkan “Ruh” di gambarkan sebagai dzat yang selalu baik dan suci, berkualitas tinggi. Bahkan digambarkan sebagai ‘turunan’ dari dzat ketuhanan.
2)      “Ruh” adalah zat yang selalu baik dan berkualitas tinggi. Sebaliknya “Hawa nafsu” adalah dzat yang berkualitas rendah dan selalu mengajak keburukan. Sedangkan “Jiwa” adalah dzat yang bisa memilih kebaikan dan keburukan tersebut, maka jiwa harus bertanggung jawab terhadap pilihannya itu.
3)      Perbedaan itu ada pada sifatnya. Jiwa bisa merasakan kesedihan, kekecewaan, kegembiraan, kebahagiaan, ketentraman, ketenangan, dan kedamaian. Sedangkan Ruh bersifat stabil dalam kebaikan tanpa mengenal perbandingan. Ruh adalah kutub positif dari sifat kemanusiaan. Sebagai lawan dari sifan setan yang negative. 

ü  Dimanakah Jiwa dan Ruh

Ada yang menggambarkan lepasnya Ruh dan Jiwa dari ubun-ubun. Namun ada juga yang menggambarkan Jiwa dan Ruh adalah sosok yang bentuknya persis sama dengan badan seseorang. Jiwa dan Ruh ( dalam hal ini di persepsi sebagai satu sosok saja ) di gambarkan berbentuk seperti badan manusia, tapi tidak kelihatan. Ia bukan badan kasar, Ia di sebut juga badan halus. Maka, ketika Jiwa dan Ruh seorang di cabut.

Posisi Ruh
            Untuk mengetahui posisi Ruh terlebih dahulu kita samakan persepsi tentang fungsinya, bahwa fungsi Ruh adalah seperti “Operanting System” dalam sebuah computer atau robot sekaligus juga berfungsi sebagai ‘sumber kehidupan’.
QS. As sajadah (32) : 9


            Artinya: kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (Tubuh), Ruhnya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran. Penglihatan dan hati (tapi), kamu sedikit sekali bersyukur.

Posisi Jiwa
            QS. Al Isro’ (17) : 85



            Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah “Ruh itu termasuk urusan Tuhan. Dan tidak lah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.
            Demikian pula Ruh dan Jiwa, Rh memiliki skala yang jauh lebih luas dari pada jiwa. Jiwa ‘program aplikasi’ yang bekerja pada system kerja Ruh. Jadi jika Ruh tidak berfungsi, Jiwa juga tidak bisa berfungsi. Tapi sebaliknya, kalau jiwa tidak bekerja, Ruh masih tetap bisa bekerja.
            Ruh itu memiliki pengaruh paling besar, karena Ia berpengaruh terhadap kerja Jiwa dan badan sekaligus, yang bekeja pada system kerja Ruh. Jadi, jika Ruh tidak berfungsi maka, badan dan Jiwa juga tidak berfungsi. Keduanya tidak hidup alias mati. Sedangkan Jiwa memiliki pengaruh terhadap badan. Tapi tidak memiliki pengaruh terhadap badan, tidak memiliki pengaruh terhadap Ruh, Justru Ia terpengaruh oleh fungsi kerja Ru. Namun, pengaruh Jiwa terhadap badan tidaklah mutlak sebagaimana Ruh.

ü  Kematian Otak dan Jiwa
Setiap yang berjiwa pasti mati, Allah menegaskan dalam banyak AyatNya, bahwa yang berjiwa pasti akan mengalami kematian. Bukan hanya manusia, melainkan juga tumbuhan, dan binatang.
Dalam Hal ini terdapat pada surah dan ayat, Al-Anbiyaa (21):35; Al-Ankabuut (29):57; Ali Imran (3):27; Adz Dzariyat (51):49;
Pada dasarnya manusia melihat di sekitar bahwa segala yang hidup mengalami kematiannya. Pada posisi yang berbeda, manusia juga memperoleh pemahaman bahwa binatang dan tumbuhan ternyata juga memiliki JIwa. Tapi, dalam skala yang lebih rendah.
Manusia umurnya sangat pendek –puluhan tahun saja- sebagiannya sudah meninggal sebelum hari kiamat. Tetapi sebagian yang lain bakal mengalami hari kiamat yang mengerikan itu.

Saat berpisah Badan dan Jiwa. Kematian adalah misteri kedua, yang terkait dengan Jiwa dan Ruh. Misteri yang pertama adalah kehidupan itu sendiri. Munculnya kematian dan kehidupan adalah misteri yang tidak pernah berakhir di perbincangkan oleh manusia sepanjang sejarah, munculnya kehidupan.
Energy kehidupan itu sebenarnya bukan dating dari jiwa itu sendiri melainkan yang datang dari Ruh yang masih bersemayam dalam Jiwa. Ketika Jiwa masih bersatu dengan badan ,kehidupan muncul pada kedua-duanya, berasal dari energy kehidupan Ruh. Hidup badannya, hidup Jiwanya.

  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar