BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Rahasia
terbesar dalam kehidupan manusia adalah: asal muasal munculnya kehidupan!,
selain sumber kehidupan, yang menjadi misteri dalam kehidupan manusia adala
keidupan itu sendiri. Kenapa dan bagaimana sosok makhluk yang tadinya mati bias
mendapatkan kehidupannya. Tiba-tiba bias bergerak dan berkembang biak.
Sebenarnya
Ruh telah menebarkan misteri yang tiada habisnya bagi si makhluk hidup sendiri
manusia bias merasakan merasakan hadirnya energy kehidupan di dalam dirinya,
tapi tidak pernah bisa memahami tentang hakikat “Energi kehidupan” itu.
Selain
asal muasal kehidupan dan ruh adalah tentang jiwa. Manusia menyebut Jiwa
sebagai salah satu komponen penyusun makhluk hidup.
Bismillahirrahmanirrahiim
“ Hai Jiwa yang
tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan Hati yang puas lagi di ridhoi_Nya.
Maka masuklah kedalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam syurgaKu “
( QS Fajr : 27
– 30 )
|
BAB II
PEMBAHASAN
ü Pengertian Jiwa dan Ruh
Jiwa di dalam Al-Qur’an diwakili dengan
kata ‘Nafs’, secara umum bisa diartikan sebagai ‘diri’. Penggunaan kata Nafs
yang mengambarkan Jiwa difirmankan Allah dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 31
kali. Sedangkan kata ‘Nafs’ (Anfus) yang bermakna ‘diri’ difirman kan tidak
kurang dari 275 kali.
Sedangkan ‘Ruh’ atau Roh di dalam
Al-Qur’an diulang-ulang oleh Allah sebanyak 10 kali. Jadi Ruh lebih sedikit di
bandingkan dengan penggunaan kata ‘Jiwa dan Diri’
QS. Az Zumar (39) : 42
Artinya : Allah memegang Jiwa ( orang )
ketika matinya dan ( memegang ) Jiwa ( orang ) yang belum mati di waktu
tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa ( orang ) yang telah dia tetapkan kematiannya
dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang di tentukan. Sesunggunya
pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang
berfikir.
Ayat diatas memberikan pemahaman
kepada manusia tentang makna Jiwa. Bahkan Jiwa adalah sesuatu yang bisa ada dan
tidak ada, atau bisa keluar dan masuk pada seorang manusia ketika dia masih
hidup.
Di jelaskan oleh Allah bahwa
seseorang yang sedang terjaga -tidak jujur dan tidak mati- ia memiliki jiwa di
dalam dirinya. Pada saat seseorang itu tertidur atau mati, Allah memegang jiwa
manusia tersebut. Dan kemudian Dia menahan jiwa ketika orang itu mati alias
tidak dikembalikan. Sedangkan pada orang yang tertidur, Allah melepaskan Jiwa
itu, sehingga orang yang tidur itu terbangun atau tersadar kembali.
QS. Al A’raaf (7) : 172
Artinya : Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap Jiwa mereka (seraya
berfirman): “Bukanlah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan
kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami “bani Adam) adalah orang-orang
yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.
Ayat di atas memberikan informasi,
bahwa sejak pertama kali manusia di lahirkan oleh ibunya, Allah sudah
mengaktifkan Jiwanya. Di gambarkan ia telah memiliki ‘naluri’ ketuhanan.
Sehingga, pada dasarnya dia telah memberi kesaksian awal bahwa Allah adalah
Tuhan yang menciptakannya.
Ketika sel telur dan sperma di
lepaskan dari sumbernya dari indung telus dan testisnya, dan kemudian di
pertemukan dan di tempatkan di dalam rahim. Saat itulah jiwa manusia sudah
mulai terbentuk. Dengan kualitas yang paling rendah. Sangat dasar. Tapi
fitrahnya telah bertauhid kepada Allah sang pencipta. Dengan kata lain manusia
yang menyebut dirinya atheis (tidak bertuhan), sebenarnya
telah mengingkari fitrah jiwanya dan melawan kata hatinya sendiri. Setiap orang
, pada dasarnya, mengakui adanya suatu kekuatan yang maha dahsyat di luar
kemampuan dari diri manusia. Diala Allah ‘Azza wajalla.
Di dalam ayat lain Allah memberikan
gambaran bahwa ketika masih bayi Jiwa kita sangatlah lemah, dan tidak tau
apa-apa. Jiwa yang lemah itu akan terus menerus mengalami penyempurnaan sampai
dewasa kelak, lewat berbagi pengalaman hidupnya. Lewat interaksi panca indra
dan hatinya.
QS. A Nahl (16) : 78
Artinya : Dan Alla mengeluarkan kamu dari
perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun, dan Dia beri kamu pendengaran, penglihatan, dan hati
agar kamu bersyukur.”
Jadi, Jiwa adalah ‘sesuatu’ di dalam
diri kita yang mengalami ‘pertumbuhan’ dan ‘perkembangan kualitas’ seiring
dengan pertumbuhan dan perkembangan kedewasaan seorang manusia. Semakin dewasa
jiwa seseorang maka semakin tinggi juga kualitas jiwanya.
QS. Yusuf : 22
Artinya : Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu.
Demikian lah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Jadi Jiwa juga adalah ‘sesuatu’ di
dalam diri manusia yang memiliki kemampuan untuk menangkap ilmu dan hikmah. Dia
bisa memahami makna yang tersimpan di dalam suatu informasi. Bahkan dia juga
bisa melakukan analisa dan mengambil keputusan dalam menyerap ilmu dan hikmah
tersebut.
Tentang proses penyempurnaan Jiwa
itu, Allah menjelaskan dalam firmanNya. Bahwa manusia, pada mulanya berasal
dari sesuatu yang tidak bisa di sebut itu proses secara bertingkat-tingkat di
dalam diri manusia, Bapak dan Ibunya, seingga menjadi manusia. Dan kemudia di
luar rahim sampai menjadi dewasa.
QS. Al Insaan (76) : 1
Artinya : bukanlah telah dating atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia
ketika itu belum merupakan sesuatu yang
dapat di sebut ?
Dengan tegas Allah menjelaskan bahwa
jiwa mengalami penyempurnaan. Ia di hadirkan pertama kalinya dalam kondisi yang
lemah, jauh dari sempurna. Setela melalui proses kehidupan, pengalaman,
pembelajaran, maka jiwa akan menjadi sempurna pada usia dewasanya.
Dalam proses penyempurnaan itu Jiwa bisa
mengarah kepada kebaikan, atau sebaliknya pada keburukan. Sesungguhnya manusia
bisa membersihkan Jiwanya, atau mengotorinya. Jika Jiwa bersih maka
beruntunglah seorang tersebut karena jiwanya yang bersih akan memberikan
manfaat kepada manusia saat idup di dunia maupun diakhirat nanti, sedangkan
orang yang mengotorinya bakal merugi, karena jiwa yang kotor itu akan
memunculkan masalah dan penderitaan sepanjang keidupannya di dunia sampai di
akhirat.
ü Perbedaan Jiwa dan Ruh
Perbedaan antara Jiwa dan Ruh adalah
pada “fungsinya”. Jiwa digambarkan sebagai sosok yang bertanggung jawab atas
segala perbuatan kemanusiaannya. Bukan Ruh yang bertanggung jawab atas segala
perbuatan manusia, melainkan Jiwa.
Adapun beberapa perbedaan antara Jiwa dan Ruh :
1) Pada
subtansinya. Jiwa dan Ruh berbeda dari segi kualitasnya ‘dzatnya’. “Jiwa” di gambarkan sebagai dzat yang
bisa berubah-ubah kualitas: naik dan turun, jelek dan baik, kotor dan bersih,
dan seterusnya. Sedangkan “Ruh” di
gambarkan sebagai dzat yang selalu baik dan suci, berkualitas tinggi. Bahkan
digambarkan sebagai ‘turunan’ dari dzat ketuhanan.
2) “Ruh”
adalah zat yang selalu baik dan berkualitas tinggi. Sebaliknya “Hawa nafsu” adalah dzat yang
berkualitas rendah dan selalu mengajak keburukan. Sedangkan “Jiwa” adalah dzat yang bisa memilih
kebaikan dan keburukan tersebut, maka jiwa harus bertanggung jawab terhadap
pilihannya itu.
3) Perbedaan
itu ada pada sifatnya. Jiwa bisa
merasakan kesedihan, kekecewaan, kegembiraan, kebahagiaan, ketentraman,
ketenangan, dan kedamaian. Sedangkan Ruh bersifat stabil dalam kebaikan tanpa
mengenal perbandingan. Ruh adalah
kutub positif dari sifat kemanusiaan. Sebagai lawan dari sifan setan yang
negative.
ü Dimanakah Jiwa dan Ruh
Ada yang menggambarkan lepasnya Ruh dan
Jiwa dari ubun-ubun. Namun ada juga yang menggambarkan Jiwa dan Ruh adalah
sosok yang bentuknya persis sama dengan badan seseorang. Jiwa dan Ruh ( dalam
hal ini di persepsi sebagai satu sosok saja ) di gambarkan berbentuk seperti
badan manusia, tapi tidak kelihatan. Ia bukan badan kasar, Ia di sebut juga
badan halus. Maka, ketika Jiwa dan Ruh seorang di cabut.
Posisi
Ruh
Untuk mengetahui posisi Ruh terlebih
dahulu kita samakan persepsi tentang fungsinya, bahwa fungsi Ruh adalah seperti
“Operanting System” dalam sebuah computer atau robot sekaligus juga berfungsi
sebagai ‘sumber kehidupan’.
QS.
As sajadah (32) : 9
Artinya:
kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (Tubuh), Ruhnya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran. Penglihatan dan hati (tapi), kamu sedikit
sekali bersyukur.
Posisi
Jiwa
QS. Al Isro’ (17) : 85
Artinya:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah “Ruh itu termasuk urusan
Tuhan. Dan tidak lah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.
Demikian pula Ruh dan Jiwa, Rh
memiliki skala yang jauh lebih luas dari pada jiwa. Jiwa ‘program aplikasi’
yang bekerja pada system kerja Ruh. Jadi jika Ruh tidak berfungsi, Jiwa juga
tidak bisa berfungsi. Tapi sebaliknya, kalau jiwa tidak bekerja, Ruh masih
tetap bisa bekerja.
Ruh itu memiliki pengaruh paling
besar, karena Ia berpengaruh terhadap kerja Jiwa dan badan sekaligus, yang
bekeja pada system kerja Ruh. Jadi, jika Ruh tidak berfungsi maka, badan dan
Jiwa juga tidak berfungsi. Keduanya tidak hidup alias mati. Sedangkan Jiwa
memiliki pengaruh terhadap badan. Tapi tidak memiliki pengaruh terhadap badan,
tidak memiliki pengaruh terhadap Ruh, Justru Ia terpengaruh oleh fungsi kerja
Ru. Namun, pengaruh Jiwa terhadap badan tidaklah mutlak sebagaimana Ruh.
ü Kematian Otak dan Jiwa
Setiap
yang berjiwa pasti mati, Allah menegaskan dalam
banyak AyatNya, bahwa yang berjiwa pasti akan mengalami kematian. Bukan hanya
manusia, melainkan juga tumbuhan, dan binatang.
Dalam Hal ini terdapat pada surah dan
ayat, Al-Anbiyaa (21):35; Al-Ankabuut (29):57; Ali Imran (3):27; Adz Dzariyat
(51):49;
Pada dasarnya manusia melihat di sekitar
bahwa segala yang hidup mengalami kematiannya. Pada posisi yang berbeda,
manusia juga memperoleh pemahaman bahwa binatang dan tumbuhan ternyata juga
memiliki JIwa. Tapi, dalam skala yang lebih rendah.
Manusia umurnya sangat pendek –puluhan
tahun saja- sebagiannya sudah meninggal sebelum hari kiamat. Tetapi sebagian
yang lain bakal mengalami hari kiamat yang mengerikan itu.
Saat
berpisah Badan dan Jiwa. Kematian adalah misteri
kedua, yang terkait dengan Jiwa dan Ruh. Misteri yang pertama adalah kehidupan
itu sendiri. Munculnya kematian dan kehidupan adalah misteri yang tidak pernah
berakhir di perbincangkan oleh manusia sepanjang sejarah, munculnya kehidupan.
Energy kehidupan itu sebenarnya bukan dating
dari jiwa itu sendiri melainkan yang datang dari Ruh yang masih bersemayam
dalam Jiwa. Ketika Jiwa masih bersatu dengan badan ,kehidupan muncul pada
kedua-duanya, berasal dari energy kehidupan Ruh. Hidup badannya, hidup Jiwanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar